Sedekah Budaya Plosokerep 2026: Merawat Warisan Leluhur, Menjaga Alam, Menata Masa Depan

oleh -33 Dilihat

KARANGANYAR – Warga Dusun Plosokerep, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, kembali menggelar Sedekah Budaya Plosokerep 2026 pada 13–14 Juni 2026. Mengangkat tema “Menelisik Masa Lalu, Merajut Masa Depan”, kegiatan ini menjadi ruang bersama untuk merawat tradisi leluhur sekaligus meneguhkan kepedulian terhadap lingkungan dan mempererat kebersamaan warga.

Penyelenggaraan acara mendapat dukungan dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X dan Yayasan Omah Pitu Art Culture. Berbagai agenda budaya disiapkan, mulai dari ritual adat, penanaman pohon ploso, sarasehan budaya, peluncuran Batik Ploso, hingga pertunjukan seni tradisional yang melibatkan berbagai kalangan, dari anak-anak hingga para sesepuh.

Rangkaian kegiatan diawali dengan bunyi ritmis Klotekan Lesung, dilanjutkan pertunjukan Solah Bowo, doa bersama para sesepuh, pemotongan tumpeng, serta prosesi penanaman pohon ploso sebagai simbol hubungan yang harmonis antara manusia dan alam.

Selain itu, warga juga melaksanakan tradisi peletakan sesaji di empat penjuru dusun. Prosesi tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada alam dan para leluhur yang telah mewariskan nilai-nilai kehidupan kepada generasi penerus.

Ketua RW 01 Plosokerep, Suwardi, menegaskan bahwa Sedekah Budaya bukan sekadar agenda tahunan, melainkan sarana memperkuat semangat gotong royong dan kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan.

“Tradisi ini mengingatkan kita bahwa manusia tidak bisa hidup terpisah dari alam. Leluhur telah mewariskan budaya sekaligus pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan hidup,” ujarnya.

Pentas Seni Tradisi Semarakkan Malam Budaya

Memasuki malam hari, Lapangan Dusun Plosokerep dipenuhi warga yang antusias menyaksikan beragam pertunjukan seni tradisional. Acara diawali dengan penampilan Tari Pitik Walik, Tari Merak, pemutaran dokumenter Sedekah Budaya Plosokerep, serta sambutan dari sejumlah tokoh dan pegiat budaya.

Salah satu pertunjukan yang menyita perhatian adalah Plasan dengan lakon Joko Sudro. Tahun ini, Plasan dikemas lebih atraktif dengan memadukan bunyi lesung, sandiwara rakyat, tari tradisional, serta ekspresi seni masyarakat dalam satu alur pertunjukan yang utuh.

Selain itu, pengunjung juga disuguhi berbagai penampilan budaya lainnya, seperti Wayang Alasan Ki Nanang Bey dari Solo, Lesung Kitir Sumilir Plosokerep, Sintren Tani Sanggar Sekar Jagad Sukoharjo, Santi Swaran, Musik Bambu Plosokerep, kolaborasi Otniel Tasman x Seblaka Banyumas, hingga penampilan spesial Yuliana Mexico.

Malam budaya juga diisi dengan sarasehan yang menghadirkan budayawan, pegiat seni, pengelola yayasan pelestarian budaya, serta perwakilan pemerintah. Diskusi tersebut membahas pentingnya menjaga dan mewariskan nilai-nilai budaya di tengah arus modernisasi yang terus berkembang.

Batik Ploso Resmi Diluncurkan

Momentum Sedekah Budaya tahun ini juga ditandai dengan peluncuran Batik Ploso, motif khas yang terinspirasi dari sejarah, filosofi, serta kekayaan alam Dusun Plosokerep.

Kehadiran Batik Ploso diharapkan tidak hanya memperkuat identitas budaya lokal, tetapi juga membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal bagi masyarakat setempat.

Bagi generasi muda, berbagai kegiatan budaya yang ditampilkan selama acara menjadi sarana belajar mengenal akar tradisi dan nilai-nilai yang diwariskan para leluhur.

Filosofi Laku Alon dan Pesan Menjaga Keseimbangan Alam

Salah satu pesan utama yang diangkat dalam Sedekah Budaya Plosokerep 2026 adalah filosofi Laku Alon, sebuah ajaran yang mengajak manusia menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran, menghargai proses, dan tidak tergesa-gesa dalam mengejar tujuan.

Tokoh budaya setempat, Agung Wibowo, menjelaskan bahwa kehidupan modern sering kali mendorong manusia untuk mengejar segala sesuatu secara instan. Pola pikir tersebut, menurutnya, kerap berdampak pada eksploitasi alam yang berlebihan.

“Menanam pohon mengajarkan bahwa segala sesuatu membutuhkan proses. Pohon tumbuh perlahan hingga memberikan manfaat. Laku Alon mengajak manusia lebih bijak dalam bertindak dan tidak hanya mengejar kecepatan,” tuturnya.

Ia menilai berbagai persoalan lingkungan, mulai dari kerusakan hutan, banjir, hingga perubahan iklim, menjadi peringatan bahwa manusia perlu kembali belajar dari kebijaksanaan yang diwariskan leluhur.

“Nilai-nilai budaya yang ditinggalkan nenek moyang sesungguhnya mengajarkan bagaimana manusia hidup berdampingan dengan alam. Pesan itu tetap relevan untuk menjawab tantangan zaman sekarang,” tambahnya.

Workshop Membatik hingga Reog Singo Yogo

Pada hari kedua, Minggu (14/6/2026), kegiatan dilanjutkan dengan workshop membatik yang menghadirkan para perajin lokal. Peserta diperkenalkan pada proses pembuatan batik, mulai dari pengenalan alat dan bahan hingga praktik membatik secara langsung.

Acara juga diramaikan dengan penampilan Tari Pitik Walik, Tari Merak, serta Musik Bambu Plosokerep yang melibatkan generasi muda sebagai pelaku seni.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, warga dan pengunjung disuguhkan pertunjukan Reog Singo Yogo yang menjadi magnet tersendiri dan mendapat sambutan meriah dari masyarakat.

Melalui semangat gotong royong dan nilai Laku Alon, Sedekah Budaya Plosokerep 2026 tidak hanya menjadi perayaan tradisi tahunan, tetapi juga upaya merawat ingatan kolektif masyarakat, memperkuat identitas budaya lokal, serta menumbuhkan kesadaran bahwa masa depan harus dibangun dengan tetap menjaga kelestarian alam dan menghormati warisan leluhur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.