Guru BK Dinilai Jadi Garda Depan Kesehatan Mental Siswa di Era Digital

oleh -109 Dilihat

Sukoharjo, Bengawanpos.com – Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 dimanfaatkan Pengurus Cabang Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) Solo Raya untuk menegaskan kembali pentingnya peran guru Bimbingan dan Konseling (BK) dalam menghadapi tantangan pendidikan modern. Selasa, (19/05/2026).

Melalui Seminar Bimbingan dan Konseling serta pelantikan pengurus PC ABKIN Solo Raya periode 2026-2030 di Gedung H Lantai 3 Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo, para akademisi, guru BK, mahasiswa, dan praktisi pendidikan membahas penguatan layanan konseling berbasis pendekatan deep learning.

Kegiatan yang mengusung tema “Implementasi Layanan Bimbingan Konseling dalam Pendekatan Deep Learning” itu diikuti sekitar 162 peserta dari berbagai daerah di Solo Raya, mulai dari guru BK SMP, SMA, SMK, MA, mahasiswa BK, mahasiswa PPL dan PPG, hingga kalangan akademisi.

Ketua panitia seminar, Mohammad Sofyan Wahyudi, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar agenda pelantikan organisasi profesi, melainkan forum penguatan kompetensi guru BK dalam menghadapi dinamika pendidikan yang semakin kompleks.

“Kegiatan ini bertujuan memperkuat profesionalisme dan solidaritas antaranggota, menambah wawasan konselor melalui seminar ilmiah, serta membangun sinergi dalam meningkatkan mutu layanan pendidikan dan konseling,” kata Sofyan.

Menurut dia, tingginya antusiasme peserta menunjukkan kebutuhan terhadap layanan bimbingan dan konseling terus meningkat seiring perkembangan teknologi dan perubahan sosial di lingkungan pendidikan.

Pelantikan pengurus PC ABKIN dilakukan untuk wilayah Sukoharjo, Surakarta, Sragen, Karanganyar, dan Klaten. Acara diawali registrasi peserta, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Univet Bantara, Mars ABKIN, pembacaan doa, sambutan, hingga seminar utama dengan menghadirkan narasumber nasional di bidang bimbingan dan konseling.

Dekan FKIP Univet Bantara, Dr. Pranichayudha Rohsulina, menilai guru BK kini memegang posisi strategis dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara emosional dan sosial.

“Peserta didik saat ini membutuhkan pendampingan dalam penguatan karakter, kesehatan mental, pengembangan diri, serta kemampuan menghadapi dinamika sosial dan perkembangan teknologi,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi kolaborasi antara dosen, guru, konselor, dan mahasiswa dalam forum ABKIN tersebut.

“Saya melihat asosiasi ini sangat lengkap. Ada guru, dosen, konselor, dan mahasiswa yang bisa duduk bersama dalam satu forum. Ini menjadi modal besar bagi pengembangan layanan BK ke depan,” katanya.

Dalam seminar itu, narasumber utama Mulawarman, S.Pd., M.Pd., Ph.D., memaparkan implementasi layanan BK dalam pendekatan deep learning. Ia menjelaskan konsep tersebut tidak sekadar berkaitan dengan teknologi kecerdasan buatan, tetapi lebih pada pembelajaran mendalam yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam memahami diri dan lingkungannya.

Sementara itu, Dr. Tri Widati S.A., M.Pd., membahas model layanan BK berbasis pembelajaran sosial emosional. Menurut dia, penguatan aspek emosional siswa menjadi bagian penting dalam menciptakan iklim belajar yang sehat di sekolah.

Perwakilan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Jawa Tengah, Edi Purwanto, menegaskan guru BK memiliki peran penting dalam mendampingi peserta didik sejak awal masuk hingga menyelesaikan pendidikan.

“Guru BK memiliki peran strategis mulai dari skrining potensi siswa, pendampingan pembelajaran, hingga membantu menyelesaikan persoalan sosial dan psikologis peserta didik,” ujarnya.

Ia menepis stigma lama yang menganggap guru BK sebagai “guru penghukum”. Menurut dia, konselor sekolah justru berfungsi membantu siswa menemukan dan mengembangkan potensi terbaiknya.

“Tidak ada anak nakal. Semua anak memiliki potensi. Di situlah peran guru BK untuk membimbing dan mengembangkan potensi itu agar tumbuh menjadi prestasi,” katanya.

Dalam forum tersebut, para peserta juga menyoroti meningkatnya kompleksitas persoalan siswa di era digital, mulai dari rendahnya motivasi belajar, persoalan keluarga, kesehatan mental, hingga pengaruh media sosial.

Karena itu, pendekatan konseling yang humanis, adaptif, dan berbasis kebutuhan siswa dinilai menjadi kebutuhan mendesak dalam sistem pendidikan modern

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.