Haru Lebaran di Sragen Hari Ini: 8 Tahun Terpisah, Penjahit Sederhana Akhirnya Berkumpul dengan Putra TNI

oleh -199 Dilihat
oleh

SRAGEN – Momen haru mewarnai Lebaran di Sragen hari ini, Sabtu (21/3/2026). Setelah delapan tahun terpisah karena tugas dan jarak, sebuah keluarga sederhana di Desa Natah, Kecamatan Plupuh, akhirnya bisa berkumpul lengkap dalam suasana penuh kebahagiaan.

Rumah milik Bapak Suradi, seorang penjahit sederhana, dan istrinya Ibu Pujiyati mendadak ramai oleh kehadiran kelima anak mereka yang pulang merayakan Hari Raya Idulfitri bersama. Momen ini menjadi yang paling dinanti setelah bertahun-tahun hanya berkomunikasi melalui sambungan telepon dan video call.

“Alhamdulillah, setelah sekian lama akhirnya kami bisa berkumpul lengkap. Dulu hanya bisa melihat lewat video call, sekarang bisa memeluk langsung. Ini kebahagiaan yang tak ternilai,” ujar Suradi dengan suara bergetar.

Selama bertahun-tahun, Suradi menghidupi keluarga dengan profesinya sebagai penjahit. Dari balik mesin jahit sederhana, ia berjuang membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya hingga sukses di bidang masing-masing. Istrinya, Pujiyati, turut menjadi sosok penting yang menjaga keutuhan keluarga di tengah keterbatasan.

Kebahagiaan keluarga ini semakin lengkap karena tiga dari lima anak mereka kini mengabdi sebagai prajurit TNI, yakni Kopda Muhammad Makruf yang bertugas di Yonif 828, Praka Muhammad Mohtar Arifin di Yonif 408 Suhbrasta, serta Muhammad Davit Tri Setiawan di Yonif Armed 3 Naga Pakca.

Sementara dua anak lainnya, Muhammad Harun Arrosit dan Annisa Zarotul Khotimah, memilih jalur wirausaha dengan mengembangkan usaha konveksi yang kini mulai berkembang.

Makruf mengaku momen Lebaran tahun ini menjadi yang paling berkesan dalam hidupnya. Sebagai prajurit, ia harus menempatkan tugas negara di atas segalanya, termasuk menahan rindu kepada keluarga.

“Sebagai anak, tentu kami selalu rindu. Tapi tugas negara adalah prioritas. Bisa pulang dan berkumpul seperti ini adalah anugerah yang luar biasa,” ungkapnya.

Hal serupa disampaikan Davit. Ia mengaku selama ini hanya bisa bertukar kabar melalui telepon. Pertemuan langsung dengan orang tua menjadi momen yang sangat emosional.

“Rasanya berbeda sekali. Semua perjuangan dan doa orang tua terbayar hari ini. Melihat mereka tersenyum, itu sudah cukup,” katanya.

Sementara itu, Mohtar tak mampu menahan haru saat menceritakan kebahagiaan yang dirasakan. Air mata pun tak terbendung saat ia melihat kedua orang tuanya dalam kondisi sehat.

“Ini Lebaran terindah bagi saya. Perjuangan mereka membesarkan kami akhirnya bisa kami balas sedikit demi sedikit. Semoga kami bisa terus membahagiakan mereka,” ujarnya.

Kisah keluarga Suradi menjadi gambaran nyata tentang perjuangan, kesabaran, dan cinta kasih orang tua kepada anak. Lebaran di Sragen hari ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga momentum penuh makna yang mempertemukan kembali keluarga setelah sekian lama terpisah.

Momen ini sekaligus mengingatkan bahwa kebahagiaan sederhana berkumpul bersama keluarga dalam keadaan sehat adalah hal yang paling berharga dalam hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.